Ada yang cukup unik dalam film ini, yang menurutku cukup berbeda dari film-film Hollywood pada umumnya. Entah karena si penulis cerita ingin menyampaikan pesan moral, atau memang hanya disesuaikan dengan karakter sang tokoh.
Adalah Edward, vampir ratusan tahun dengan wajah tampan, yang tetap menghargai keperawanan wanita dan menolak berhubungan seks sebelum menikah. Padalah Bella sudah ngebet, terkesan memaksa, ingin menikmati seks sebelum dia menjadi vampir. Tapi Edward tetap menolak karena dia “kolot”.
Jika adegan ini ada di film Indonesia atau Arab, tidaklah istimewa (ah, terlalu menggurui, kelihatan banget kalau dakwah, tidak berani tampil beda). Tapi ini adalah produksi Hollywood, yang mengumbar kebebasan dan hawa nafsu. Justru di sinilah keunikannya. Sepertinya penulis cerita tidak berniat berdakwah atau kampanye menolak seks pranikah. Adegan itu hanya membenturkan dua budaya, kuno (Edward) dan modern (Bella). Bagi kebanyakan masyarakat Barat yang modern, setidaknya yang ditunjukkan di film-film, seks sah saja asalkan sudah cukup umur, apalagi sudah saling cinta. Apalagi sudah cinta mati, bahkan tinggal tunggu waktu menikah. Namun pandangan itu masih tidak berlaku bagi Edward.
Adegan itu juga menjadi unik, karena yang menolak adalah pihak pria. Biasanya sang pria yang bernafsu tinggi, wanita hanya tidak bisa melawan. Tapi, sebagai pria normal, terus terang akan sangat sulit menolak godaan wanita, apalagi situasi mendukung, apalagi wanita itu kita cintai. Bella jelas menarik secara seksual. Mungkin penulis ingin menyampaikan, selain masalah pandangan kuno, bahwa cinta itu menjaga, bukan merampas. Loh, tapi ini kan diberi, disodori, ibarat kucing disodori ikan segar.
Lewat sosok Edward, film ini terkesan ingin menunjukkan, bahwa karena cinta, pria bisa menahan nafsu dan lebih menghargai keperawanan wanita. Ada hal yang lebih indah untuk dinikmati selain seks, apalagi jika seks itu belum halal.