The Twilight Saga: Eclipse (2010)

Ada yang cukup unik dalam film ini, yang menurutku cukup berbeda dari film-film Hollywood pada umumnya. Entah karena si penulis cerita ingin menyampaikan pesan moral, atau memang hanya disesuaikan dengan karakter sang tokoh.

Adalah Edward, vampir ratusan tahun dengan wajah tampan, yang tetap menghargai keperawanan wanita dan menolak berhubungan seks sebelum menikah. Padalah Bella sudah ngebet, terkesan memaksa, ingin menikmati seks sebelum dia menjadi vampir. Tapi Edward tetap menolak karena dia “kolot”.

Jika adegan ini ada di film Indonesia atau Arab, tidaklah istimewa (ah, terlalu menggurui, kelihatan banget kalau dakwah, tidak berani tampil beda). Tapi ini adalah produksi Hollywood, yang mengumbar kebebasan dan hawa nafsu. Justru di sinilah keunikannya. Sepertinya penulis cerita tidak berniat berdakwah atau kampanye menolak seks pranikah. Adegan itu hanya membenturkan dua budaya, kuno (Edward) dan modern (Bella). Bagi kebanyakan masyarakat Barat yang modern, setidaknya yang ditunjukkan di film-film, seks sah saja asalkan sudah cukup umur, apalagi sudah saling cinta. Apalagi sudah cinta mati, bahkan tinggal tunggu waktu menikah. Namun pandangan itu masih tidak berlaku bagi Edward.

Adegan itu juga menjadi unik, karena yang menolak adalah pihak pria. Biasanya sang pria yang bernafsu tinggi, wanita hanya tidak bisa melawan. Tapi, sebagai pria normal, terus terang akan sangat sulit menolak godaan wanita, apalagi situasi mendukung, apalagi wanita itu kita cintai. Bella jelas menarik secara seksual. Mungkin penulis ingin menyampaikan, selain masalah pandangan kuno, bahwa cinta itu menjaga, bukan merampas. Loh, tapi ini kan diberi, disodori, ibarat kucing disodori ikan segar.

Lewat sosok Edward, film ini terkesan ingin menunjukkan, bahwa karena cinta, pria bisa menahan nafsu dan lebih menghargai keperawanan wanita. Ada hal yang lebih indah untuk dinikmati selain seks, apalagi jika seks itu belum halal.

Dipublikasi di Film Barat | Tag , , , | Tinggalkan Komentar

Click (2006) : Nikmatilah Hidup

Click - 2006Tiga tahun lalu aku melihat temanku, cowok, menangis saat menyaksikan film drama keluarga ini. Saat aku menonton, aku juga terharu tapi tidak sampai menangis. Film ini mengajar tentang pentingnya keluarga dibandingkan karir atau pekerjaan kita. Namun saat aku menonton ulang film ini di televisi, ada pelajaran lain yang ingin disampaikan lewat film ini.

Menikmati Setiap Pengalaman

Michael merasa jenuh dengan hidupnya. Saat dia memperoleh remote control ajaib, dia sangat gembira. Dia bisa memutar kembali kejadian masa lalu, menghentikan waktu, dan (yang paling disukai) mempercepat kejadian yang tidak disukainya. Kemacetan, rasa sakit bahkan foreplay saat berhubungan intim di-skip, fast forward, sehingga dia tidak merasakannya.

Namun fitur yang dia sukai itu justru menjadi jebakan baginya. Ibarat Nobita yang ceroboh saat mendapat barang ajaib dari Doraemon, Michael juga ceroboh dalam menggunakan remote control ajaib itu. Tanpa sengaja dia mengaktifkan autopilot, dan remote pun bekerja sesuai kebiasaan Michael sebelumnya. Apa yang pernah tidak dia sukai langsung berlalu (skip) begitu saja tanpa dia sadari. Saat macet, sakit, bahkan waktu bercinta juga berlalu dengan cepat tanpa dia sadari. Sampai-sampai dia tidak sadar saat ayahnya meninggal, istrinya menceraikannya dan anak-anaknya beranjak dewasa.

Memang menyenangkan jika kita bisa melompati hal-hal yang tidak kita sukai. Kita gak perlu merasakan sakit, tidak perlu jenuh saat macet, tidak perlu mendengarkan omelan atasan atau customer. Semua lancar-lancar saja. Padahal seringkali kesulitan atau masalah datang untuk mengajar kita, membekali kita dan mendewasakan diri kita agar bisa menjalani hidup dengan lebih baik. Masalah bisa menjadi berkat saat kita menjalani dengan berserah pada Tuhan. Bahkan, akan ada sukacita tersendiri ketika kita sadar bahwa masalah berlalu. Kita juga bisa lebih menghargai hidup.

Ada yang bilang, tanpa penyakit orang tidak akan pernah menyadari nikmatnya hidup sehat. Tanpa masalah, kesuksesan hanya terasa biasa saja.

Mengapa harus ada sakit, kesulitan, masalah dan berbagai hal yang tidak menyenangkan? Ya karena itu kenyataan dalam hidup di dunia yang tidak sempurna itu. Kesulitan adalah hal yang sulit dihindari, bahkan bagi orang kaya sekalipun. Untuk itu, kita perlu digembleng dengan kesulitan, agar seandainya (moga-moga tidak) kita menemui kesulitan, kita bisa lebih tegar dan bijaksana.

Ada saatnya kita perlu bersyukur saat kesulitan datang. Kadang masalah perlu “dinikmati” dan dijalani tanpa mengeluh agar kita bisa makin tegar dan bijaksana.

Dipublikasi di Film Barat | Tag , , , | Tinggalkan Komentar

Perfect Stranger (2007) : Kebohongan Tiada Akhir

Perfect StrangerPelajaran dari film ini adalah sederhana : kebohongan tidak selalu mudah untuk disembunyikan. Seringkali butuh kebohongan lain demi menutupi suatu kebohongan, dan lebih parah lagi, perlu korban yang kadang tidak berakhir juga.

Di awal film aku tertark karena ceritanya mirip cerita detektif, dimana Rowena, seorang gadis jurnalis, menyamar menjadi karyawan di sebuah perusahaan yang dipimpin oleh Hills, untuk menyelidiki kematian temannya, Grace. Rowena dibantu Miles, seorang hacker yang ternyata juga punya hubungan dengan Grace. Hills yang diperankan oleh Bruce Wilis, dicurigai karena dianggap punya affair dengan Grace.

Hingga pertengahan film, terkesan tidak ada yang istimewa dari cerita ini. Hanya mengandalkan trik-trik untuk menjebak Hills, termasuk mencuri data. Namun aku menduga bahwa cerita ini tidak akan sesederhana itu. Sempat aku menerka bahwa Miles yang jadi pembunuh, karena dia juga punya hubungan asmara dengan Grace, dan saat chatting menyamar sebagai Hills.

Ternyata meleset total. Aku memang gak pandai menebak. Kilasan-kilasan kejadian masa kecil Rowena yang membuatku bingung karena terkesan gak nyambung, justru menjadi benang merah dalam kasus ini.

Saat Hills akhirnya ditangkap polisi, Miles mengungkapkan bahwa dia tahu kalau Rowenalah yang membunuh Grace. Rupanya Grace tahu tentang pembunuhan ayah tiri Rowena dan sering memeras Rowena. Langsung saja Grace membunuh Miles, melapor ke polisi bahwa Miles merupakan pembunuh Grace dan ingin membunuhnya.

Dengan cantik, khas film Hollywood, film ini ditutup dengan menampilkan sosok seorang pria, tetangga Rowena, yang menyaksikan adegan akhir itu dari balik jendela. Kebohongan tidak mudah untuk ditutup rapat-rapat.

Dipublikasi di Film Barat | Tag , | Tinggalkan Komentar